Cara Membuat Kuis Online untuk Kelas dalam 10 Menit
Membuat kuis untuk kelas sering terasa lama bukan karena alatnya sulit, tetapi karena urutan kerjanya terbalik: soal ditulis dulu sebanyak-banyaknya, baru dipikirkan mau mengukur apa. Panduan ini membalik urutannya, dan hasilnya satu kuis siap pakai dalam sekitar sepuluh menit.
1. Tentukan dulu apa yang ingin Anda ketahui
Sebelum menulis satu soal pun, tuliskan satu kalimat: “Setelah sesi ini, saya ingin tahu apakah peserta bisa ___.” Kalimat itu yang menentukan soalnya, bukan sebaliknya. Kalau kalimatnya sulit ditulis, biasanya materinya memang belum punya sasaran yang jelas — dan kuis apa pun yang dibuat di atasnya hanya akan mengukur daya ingat sesaat.
Untuk sesi satu jam, dua sampai tiga kalimat semacam itu sudah cukup. Lebih dari itu, kuisnya akan terlalu panjang dan perhatian peserta habis sebelum bagian yang penting.
2. Pilih jumlah soal yang realistis
Patokan yang jarang meleset: satu soal per dua menit sesi untuk kuis di tengah materi, dan sepuluh sampai lima belas soal untuk kuis penutup. Kuis tiga puluh soal terdengar menyeluruh, tetapi di ruang kelas yang terjadi adalah peserta menjawab asal pada sepertiga terakhir — dan data yang Anda dapat justru jadi menyesatkan.
3. Tulis soal dari kesalahan yang sering terjadi
Sumber soal terbaik bukan buku materi, melainkan catatan Anda sendiri tentang apa yang biasanya salah dipahami. Kalau setiap angkatan selalu tertukar antara dua istilah, itu satu soal. Kalau ada langkah prosedur yang selalu dilewati, itu satu soal lagi.
Soal yang lahir dari kesalahan nyata punya keunggulan: pilihan jawaban salahnya menulis dirinya sendiri. Anda tidak perlu mengarang pengecoh, karena pengecohnya adalah kekeliruan yang memang ada di kepala orang.
4. Buat pilihan salah yang masuk akal
Ini bagian yang paling sering dilewati dan paling menentukan. Pilihan jawaban yang jelas-jelas ngawur membuat soal bisa dijawab benar tanpa mengerti apa-apa — cukup dengan mencoret yang aneh. Setiap pilihan salah sebaiknya merupakan jawaban yang akan dipilih seseorang yang salah paham dengan cara tertentu.
Ukuran sederhana untuk memeriksanya: kalau Anda bisa menjelaskan “seseorang memilih B kalau dia mengira ___”, pilihan B itu layak. Kalau tidak bisa, ganti.
5. Uji sendiri sebelum dipakai
Kerjakan kuis Anda sendiri dari layar peserta, bukan dari layar penyusun. Tiga hal yang hampir selalu ketahuan di langkah ini: soal yang jawabannya sudah tersirat di soal berikutnya, gambar yang terpotong di layar ponsel, dan waktu pengerjaan yang ternyata terlalu pendek untuk dibaca.
6. Perhatikan hasilnya, bukan hanya nilainya
Nilai rata-rata kelas adalah angka yang paling tidak berguna dari sebuah kuis. Yang berguna adalah soal mana yang paling banyak salah. Satu soal dengan tingkat benar di bawah 40 % memberi tahu Anda persis bagian materi mana yang perlu diulang — dan itu sering kali hal yang Anda kira sudah paling jelas dijelaskan.
Di Skorika, tab Questions saat sesi berjalan menampilkan tingkat benar per soal secara langsung, sehingga Anda bisa memutuskan untuk mengulang penjelasan sebelum kelas bubar, bukan seminggu kemudian.
Kesalahan yang paling sering terjadi
- Soal terlalu panjang. Peserta membaca di ponsel. Kalau soalnya butuh digulir, sebagian orang akan menjawab tanpa membaca habis.
- Semua soal setingkat. Mulailah dengan satu atau dua soal mudah. Peserta yang salah di soal pertama cenderung menyerah.
- Menghukum kecepatan. Kalau poin bergantung pada kecepatan menjawab, yang diukur adalah kecepatan membaca, bukan pemahaman. Skorika sengaja tidak memberi bonus kecepatan; waktu hanya dipakai untuk memisahkan peringkat yang seri.
- Tidak pernah membuang soal. Soal yang dijawab benar oleh 100 % peserta dua sesi berturut-turut tidak lagi mengukur apa pun. Ganti.
Ringkasnya
Tulis sasarannya dulu, ambil soal dari kesalahan yang nyata, buat pengecoh yang masuk akal, uji dari layar peserta, lalu baca hasilnya per soal — bukan per orang. Enam langkah itu jauh lebih menentukan daripada alat mana yang Anda pakai.